Bagian I: Ketika bumi sedang menuju kesetimbangan baru, siapkah kita?
Ceritanya artikel ini udah lama banget ditulis, sekitar bulan Feb 2007, dengan masukan Alm. Pak Dibyo, cuma sayang artikelnya tidak pernah dimuat, mudah-mudahan infonya berguna.
Dalam beberapa pekan terakhir ini, berita mengenai banjir yang menggenangi sejumlah daerah di
Jawaban untuk pertanyaan di atas sedikit banyak terkuak dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panel for Climate Change), sebuah komite dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang beranggotakan 2500 peneliti dan ilmuwan dari 130 negara. Komite yang dibentuk pada tahun 1988 ini mengemban tugas khusus PBB yaitu mempelajari dampak perubahan iklim global dunia akibat dari kegiatan manusia Dalam ringkasan laporan setebal 18 halaman yang diterbitkan awal bulan Februari lalu terdapat beberapa kesimpulan penting (http://www.ipcc.ch/SPM2feb07.pdf )
- Pemanasan global merupakan fenomena alami yang telah mengalami percepatan sejak dimulainya era revolusi industri pada abad 18
- Pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2)
- Peningkatan kadar CO2 merupakan akibat dari kegiatan manusia dalam penggunaan BBM dan perubahan tata guna lahan
- Suhu bumi pada akhir abad 21 akan meningkat 1.6 – 6.4 °C; sementara itu, mencairnya lapisan es di kutup utara akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut sebesar 18 – 59 cm.
Pada akhir kesimpulannya disebutkan bahwa pemanasan global merupakan hal yang nyata dan tidak terelakkan, yang akan berdampak pada meningkatnya frekuensi kejadian dan intensitas bencana seperti banjir, badai, kemarau panjang, dan gelombang panas.
Lantas bagaimana dampak terhadap
Lepas dari bencana banjir, kekeringan pun akan manjadi tamu yang semakin sering berkunjung. Sebagaimana kita rasakan bahwa sepanjang tahun 2006 terjadi kemarau cukup panjang yang disebabkan oleh El Nino, suatu fenomena meningkatnya suhu permukaan samudra pasifik di sepanjang garis katulistiwa dari Indonesia sampai Peru. Selama El Nino berlangsung, uap air yang terbentuk di atas wilayah
Pada akhirnya sebuah pertanyaan layak kita tanyakan pada diri kita sendiri, sudah siapkah kita menghadapi buah dari kemajuan teknologi dan pembangunan yang lupa memperhitungkan aspek lingkungan, yang bernama bencana? Bagian II: Antisipasi dan mitigasi bencana.
No comments:
Post a Comment