Wednesday, December 12, 2007

Fenomena Pemanasan Global, El Nino dan La Nina

Bagian I: Ketika bumi sedang menuju kesetimbangan baru, siapkah kita?


Ceritanya artikel ini udah lama banget ditulis, sekitar bulan Feb 2007, dengan masukan Alm. Pak Dibyo, cuma sayang artikelnya tidak pernah dimuat, mudah-mudahan infonya berguna.

Dalam beberapa pekan terakhir ini, berita mengenai banjir yang menggenangi sejumlah daerah di Indonesia menjadi topik utama yang mengisi halaman muka banyak media cetak. Pertanyaan selanjutnya, akankah banjir ini kembali atau sebaliknya, kekeringan yang disertai dengan kebakaran hutan manjadi tamu tidak diundang yang akan semakin sering berkunjung?

Jawaban untuk pertanyaan di atas sedikit banyak terkuak dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panel for Climate Change), sebuah komite dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang beranggotakan 2500 peneliti dan ilmuwan dari 130 negara. Komite yang dibentuk pada tahun 1988 ini mengemban tugas khusus PBB yaitu mempelajari dampak perubahan iklim global dunia akibat dari kegiatan manusia Dalam ringkasan laporan setebal 18 halaman yang diterbitkan awal bulan Februari lalu terdapat beberapa kesimpulan penting (http://www.ipcc.ch/SPM2feb07.pdf )

  • Pemanasan global merupakan fenomena alami yang telah mengalami percepatan sejak dimulainya era revolusi industri pada abad 18
  • Pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya kadar karbon dioksida (CO2)
  • Peningkatan kadar CO2 merupakan akibat dari kegiatan manusia dalam penggunaan BBM dan perubahan tata guna lahan
  • Suhu bumi pada akhir abad 21 akan meningkat 1.6 – 6.4 °C; sementara itu, mencairnya lapisan es di kutup utara akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut sebesar 18 – 59 cm.

Pada akhir kesimpulannya disebutkan bahwa pemanasan global merupakan hal yang nyata dan tidak terelakkan, yang akan berdampak pada meningkatnya frekuensi kejadian dan intensitas bencana seperti banjir, badai, kemarau panjang, dan gelombang panas.

Lantas bagaimana dampak terhadap Indonesia, yang didalamnya terdapat lebih dari 17500 pulau? Naiknya permukaan laut menjadikan dataran rendah di pesisir pantai akan semakin sulit untuk ditinggali, pulau-pulau kecil diperkirakan akan tenggelam dengan naiknya permukaan laut. Ibukota Jakarta yang 40% daerahnya berada di bawah permukaan laut, besar kemungkinan akan menjadi langganan banjir. Hal ini tentunya diperparah oleh penurun permukaan tanah dan sistem drainase yang tidak terkelola dengan baik. Curah hujan periode bulan Desember sampai Februari selama abad 21 diperkirakan akan meningkat sekitar 10-20%, yang tentunya akan semakin mempersulit pengendalian banjir, khususnya bagi daerah daerah yang sebelumnya telah rawan banjir.

Lepas dari bencana banjir, kekeringan pun akan manjadi tamu yang semakin sering berkunjung. Sebagaimana kita rasakan bahwa sepanjang tahun 2006 terjadi kemarau cukup panjang yang disebabkan oleh El Nino, suatu fenomena meningkatnya suhu permukaan samudra pasifik di sepanjang garis katulistiwa dari Indonesia sampai Peru. Selama El Nino berlangsung, uap air yang terbentuk di atas wilayah Indonesia akan tertiup ke bagian timur dan jatuh di lautan pasifik, yang mengakibatkan kemarau panjang bagi sebagian besar daerah Indonesia. Namun sebaliknya bagi negara-negara amerika latin, selama El Nino, curah hujan menjadi sangat tinggi yang sering mengakibatkan banjir. El Nino yang mulai dicatat sejak 300 tahun lalu, merupakan fenomena alam dengan siklus 2-7 tahun, namun frekuensi kejadian dan intensitas yang semakin kuat tercatat dalam dua dasawarsa terakhir ini. Kuatnya El Nino selain menyebabkan kemarau panjang juga menjadikan kebakaran hutan alami maupun yang disengaja menjadi tidak terkendali. Sebagaimana terjadi pada 1997-1998, tidak hanya alam yang menjadi korban, kemarau panjang juga mempengaruhi kejiwaan manusia yang menyebabkan gejolak sosial dalam tanah air. Walau tidak selalu, berlalunya El Nino akan diikuti dengan munculnya La Nina, si gadis cilik yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan El Nino. Bagi Indonesia, datangnya La Nina berarti kita harus siap menghadapi banjir dan tanah longsor.

Pada akhirnya sebuah pertanyaan layak kita tanyakan pada diri kita sendiri, sudah siapkah kita menghadapi buah dari kemajuan teknologi dan pembangunan yang lupa memperhitungkan aspek lingkungan, yang bernama bencana? Bagian II: Antisipasi dan mitigasi bencana.

No comments: